Yuyun Yuniati, S.Pd.

Guru Alqur’an Hadis MAN 1 Bandar Lampung

Yuyun Yuniati ialah nama  cinta pemberian dari ayahnya. Ia biasa disapa dengan nama Yuyun. Ia lahir sebagai anak pertama, perempuan satu-satunya dari tiga bersaudara. Ia lahir dari seorang  Ibu Iryanti dan  Bapak M.Sugianto. Tanpa doa, restu dan dukungan dari kedua orang tua, seorang anak  bukanlah siapa-siapa.

Yuyun Yuniati, S.Pd.
Yuyun Yuniati, S.Pd.

Ia dididik dengan penuh kesederhanaan dan kemandirian. Di mana jika kita menginginkan sesuatu maka berusahalah dengan kesungguhan dan diri sendirilah yang harus mengusahakannya. Yuyun lahir pada tanggal 17 Oktober 1996 di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan dan dibesarkan di desa tersebut sampai Ia sekolah di tingkat menengah atas.

Yuyun memulai pendidikan pertamanya di TK Darma wanita, SDN 3 Pasuruan, MTs Al-Fur’qon Rawi, SMKN 1 Kalianda dimana ia mengambil jurusan  (AP) Administrasi Perkantoran. Kemudian melanjutkan pendidikan di UIN Raden Intan Lampung dengan jurusan PAI (Pendidikan Agama Islam)  di tahun 2014 dan lulus di tahun 2018. Kalau dilihat memang tidak sejalan dengan jurusan yang ia tempuh ketika SMK, tapi tak mengapa, jurusan PAI adalah jurusan keselamatan dunia akhirat kata Yuyun, meski tak sejalan namun ia tersesat di jalan yang benar. Hal ini karna jurusan pendidikan agama ialah jurusan yang memang sangat di ridhoi olah kedua oarng tuanya.

Setelah lulus, Ia pernah mengajar di Sekolah Dasar yang tak jauh dari rumahnya, yaitu SDN 2 Kuripan. Ia mengajar sesuai dengan jurusannya yaitu pelajaran agama Islam. Ia mengajar dari kelas satu sampai enam. Mengajar di SD ialah pengalaman yang luar biasa menyenangkan baginya, karna tingkah anak-anak SD yang sangat lucu-lucu. Menurutnya, kesabaran yang sangat tinggi memang harus dimiliki oleh seorang guru SD mulai dari belajar menulis, membaca dan menghitung, namun di SD Ia hanya sampai 6 bulan saja, lalu Yuyun melanjutkan untuk mengajar ke tingkat menegah atas, yaitu sekolah SMKN 2 Kalianda selama 3 tahun atau dikenal dengan nama STM, yaa… karna kebanyakan jurusan teknik dimana peminatnya mayoristas  laki-laki, hampir tiap kelas tidak ada murid perempuan, jikalau ada pasti hanya satu atau dua murid saja. Dimana mengajar di STM tak kalah mengesankan baginya. Setelah tiga tahun di STM, Ia melanjutkan mengajar di MAN 1 Bandarlampung sampai saat ini dimana guru-guru serta murid-murid sangat menginspirasi baginya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *