SIRIH YANG TERASINGKAN
Karya : Marssya Salsabila
Suara talo balak bertalu, menggema di langit-langit gedung serbaguna yang megah di pusat Kota Bandar Lampung. Ritme logamnya mengalun berlapis, seharusnya menggetarkan sukma siapa pun yang mendengarnya. Namun bagi Aruna, dentuman itu terasa seperti palu yang memukul-mukul kesadarannya, menagih sesuatu yang selama ini ia tunda.
Di ruang rias, ia menatap bayangannya sendiri di cermin.
Siger emas menjulang di kepalanya, sembilan pucuknya berkilau tajam di bawah lampu neon. Pantulannya begitu angkuh, begitu agung, seolah menyimpan sejarah panjang yang tidak boleh diganggu. Namun dibalik kemegahan itu, Aruna justru merasa kecil.
Di hadapannya, sebuah kotak kalam tergeletak. Kuningan tua berukir sulur yang rumit, diwariskan dari buyutnya. Benda itu seharusnya berisi sesuatu yang sakral, sesuatu yang telah hidup jauh sebelum dirinya mengenal dunia. Aruna membuka tutupnya perlahan. Tidak ada sirih, hanya permen warna-warni. Rasa kopi dan mint dengan bungkus plastik yang mengkilap.
“Aruna! Cepat! Tamu agung sudah sampai!” teriak panitia dari luar.
Aruna tidak langsung menjawab. Jemarinya yang dihiasi tanggai emas menyentuh permukaan plastik itu, ada rasa dingin dan asing.
“Kenapa tidak pakai sirih seperti biasanya, Mba?” tanyanya.
Panitia itu menghela napas pendek. “Zaman sekarang? Na, praktis pakai permen! Siapa juga mau ngunyah sirih? Bau, nanti gigi mereka merah. Malu-maluin, udah permen aja. Semua orang suka manis.”
“Semua orang suka manis” Aruna mengulang kalimat pelan, tersenyum sedikit dengan tatapan miris.
***
Dulu, di teras rumah panggung milik neneknya di Kenali, Aruna diberikan lipatan daun hijau oleh neneknya. “Coba sedikit saja,” kata Nenek.
Aruna menggeleng keras. “Pahit! Bau!” Ia pernah mencobanya sekali. Rasa getir itu memenuhi lidahnya, membuatnya ingin muntah. Yang lebih menakutkan, cairan merah itu keluar dari mulutnya, ia menangis.
Neneknya Aruna dulu seorang maestro tari yang terkenal di Lampung, ia selalu menyiapkan kotak Kalam dengan ritual yang khusyuk. Di dalam kotak itu terdapat daun hijau yang sudah diisi dan dilipat membentuk segitiga. Ya daun hijau itu namanya sirih. Aruna membenci sirih saat kecil dan juga campuran yang ada di dalam lipatannya. Lebih menyebalkan lagi setelah mengunyahnya lalu ia bermain, teman-temannya akan berucap dan mengejek.
“Dasar vampir!”
Sejak itu ia menolak memakan sirih yang diberikan oleh neneknya. Pernah suatu sore ia mengamuk. “Aku tidak mau, Nek! Ini kuno! Menyiksa!”
Nenek tidak marah. Ia hanya menarik Aruna ke pangkuannya. “Tidak semua yang bermakna terasa enak di awal,” bisiknya.
“Sirih ini bukan sekadar camilan, Aruna. Di dalamnya, ada irisan pinang, sejumput gambir, dan kapur putih.”
Ia membuka lipatan sirih itu perlahan “Sirih itu merunduk, tumbuh menjalar, mencari sandaran tanpa mencekik batangnya. Itu lambang persaudaraan.”
Ia menyentuh kapur putih “Ini hati, Harus bersih saat menyambut.” Lalu pinang merah. “Ini keberanian.”
Aruna diam. Ia belum sepenuhnya mengerti, namun sesuatu dalam dirinya mulai berubah. Neneknya terus memaksa Aruna mencium aroma racikan itu. Aroma yang bagi hidung bocah itu terasa aneh, namun bagi jiwanya terasa seperti bau “pulang.” Kalimat yang selalu Aruna ingat tentang neneknya adalah “Kalau kamu ganti isinya, kamu mengubah doanya.”
***
Kini, Nenek sudah tiada. Aruna berdiri membawa kotak berisi gula-gula pabrikan yang dibuat oleh orang-orang modern. Lampu aula meredup, Aruna melangkah ke panggung. Gerakan sembahnya sempurna, tubuhnya bergerak selaras dengan irama.
Kain Tapis Jung Sarat yang ia kenakan terasa berat. Benang emasnya asli, ditenun dengan kesabaran berbulan-bulan. Setiap motif di kain itu menceritakan tentang perjalanan kapal menuju keabadian. Aruna merasa seperti kontradiksi berjalan, tubuhnya dibalut sejarah yang agung, namun tangannya membawa “kepalsuan” yang manis.
Saat ia mendekati tamu agung, seorang pejabat tinggi, jantungnya berdegup tidak teratur. Ia berlutut, Mengangkat kotak itu, Menyodorkannya.
Tamu itu tersenyum, membuka kotak, lalu mengambil permen. “Inovasi budaya yang bagus,” katanya ringan. Tepuk tangan kecil terdengar. Aruna ikut tersenyum, Namun di dalam dirinya sesuatu runtuh..
Setelah tarian selesai, Aruna kembali ke ruang ganti. Ia melepas Siger-nya dengan tangan gemetar. Kepalanya terasa ringan, namun hatinya terasa kosong. Beberapa adik kelasnya, para penari muda yang masih SMP, berkerumun di sudut ruangan. Mereka sedang berebut sisa permen di dalam kotak Kalam. “Enak ya, Kak? Daripada sirih, pahit dan bau,” celoteh salah satu dari mereka, seorang gadis kecil bernama Tiara.
Aruna menatap Tiara. Ia melihat dirinya sendiri di masa lalu, namun dengan satu perbedaan besar. Tiara tidak tahu apa yang hilang.
Sepulangnya dari acara malam itu, ia tidak bisa tidur. Ia teringat suara neneknya.
”Kalau kamu ganti isinya, kamu mengubah doanya.”
Aruna menatap langit-langit kamar, ini pertama kalinya, ia merasa bukan sekadar penari tapi penjaga sesuatu yang mulai hilang.
***
Seminggu kemudian, undangan besar datang, Acara ulang tahun Provinsi Lampung. Banyak tamu penting yang datang. Semua harus sempurna, semua harus “aman.” Di ruang rias, ia mentap kotak kalam yang tergeletak, Panitia sudah menyiapkan permen, Aruna menatapnya lama. Lalu diam-diam Aruna menggantinya dengan sirih. Ia melipatnya sendiri, tangannya gemetar, berkali-kali salah, namun ia terus mencoba. Ia tahu risikonya, dimarahi, Ia bisa kehilangan kesempatan. Bahkan namanya bisa hancur, Namun ia juga tau, jika bukan sekarang, maka tidak akan pernah.
Tarian dimulai, lampu menyala terang, musik menggema. Setiap gerakan Aruna terasa lebih berat, lebih sadar, juga lebih nyata, tidak seperti gerakan sebelumnya yang penuh dengan kepalsuan.
Saat gerakan puncak tiba, Aruna mendekati sang tamu agung salah satunya adalah pemangku adat Lampung sedang duduk di barisan depan. Aruna berlutut perlahan, gerakan jong yang begitu rendah hingga lututnya nyaris menyentuh karpet merah. Ia mengangkat kotak Kalam itu dengan kedua tangan, menyodorkannya dengan kepala tertunduk sebagai tanda hormat tertinggi.
Klik.
Kotak terbuka, aroma sirih menguar, getir, tajam, tetapi lebih jujur. Bisik-bisik mulai terdengar, Panitia membeku. Pemangku adat itu terdiam, Semua mata tertuju padanya. Aruna menunduk, tetapi tubuhnya kaku, ini risikonya, Ia tahu. Perlahan, para tamu penting mengambil sirih itu. Ragu, Namun akhirnya mereka mengunyahnya.
Sunyi, detik terasa panjang.
Begitu acara tarian selesai, suasana berubah panas. “Aruna! Kamu gila?!”
“Kamu bisa merusak acara!”
“Kamu tidak profesional!”
Kata-kata itu menghantamnya bertubi-tubi. Aruna berdiri diam, Tangannya gemetar, Namun ia tidak menunduk.
“Kalau bukan di sini,” katanya pelan, “lalu di mana lagi kita menjaga makna?”
Salah satu panitia menghela nafas “Kamu mau tanggung kalo mereka nanti protes? Udah gue bilang itu kuno lo liat muka mereka gak ada yang mau makan tuh sirih.”
Aruna menatap panitia itu dengan tatapan paling teguh yang pernah ia miliki. “Tapi dimakan kan mba? Tradisi kita bukan soal apa yang ‘mau’ diterima tamu Mba, tapi soal apa yang ‘seharusnya’ kita sampaikan. Kalau mereka tidak mau mengunyahnya, biarkan sirih ini ada di sana sebagai pengingat bahwa kita punya akar.”
Panitia itu tertegun, akhirnya menyerah melihat sorot mata Aruna yang mirip dengan sorot mata maestro tua dari Kenali.
Panitia yang lain tetap tidak setuju, nama Aruna hampir dicoret hanya karena Ia tetap ingin mempertahhankan budaya yang ada. Namun saat acara sambutan pemangku adat yang berada di Podium meminta Aruna naik,
Jantungnya berdegup kencang, tapi Aruna terus berjalan menuju Podium memenuhi panggilan sang pemangku adat. Ia memandang Aruna dengan rasa bangga
“Pertunjukan tadi, memberi saya pengalaman yang berbeda.” Ruangan hening
“Awalnya saya terkejut.” Ia berhenti sejenak. “Tapi kemudian saya sadar ini bukan sekadar tarian.” menatap para hadirin. “Ini warisan.”
Suasana mulai berubah. “Tradisi tidak seharusnya diubah hanya agar terasa nyaman.” Beberapa orang mulai saling pandang. “Kadang,” lanjutnya, “yang pahit itulah yang paling jujur.”
Tepuk tangan perlahan terdengar, Semakin lama, semakin kuat. Aruna menunduk, Matanya basah. untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Aruna melihat sebuah penghormatan yang tulus. Bukan sekadar senyum basa-basi karena gula, tapi pengakuan atas identitas yang kembali pulang.
Di sudut ruangan, Tiara berdiri. Ia mengendus udara. “Baunya aneh ya, Kak…”
katanya pelan. Aruna tersenyum. “Iya,” jawabnya lembut. “Tapi nanti kamu akan tahu kenapa itu penting.” Ia tahu perjuangannya belum selesai. Besok, ia akan mengajari Tiara cara melipat sirih. Karena Aruna akan memastikan bahwa “manis” yang didapat generasi mendatang bukan berasal dari permen, melainkan dari rasa bangga memiliki identitas yang tak bisa dibeli di toko mana pun. Namun malam itu Aruna tersadar, kini sirih tidak lagi terasingkan.
TAMAT










