Cerpen (Cerita Pendek)
Bola Petaka
Karya : Luthfia Puwan Hidayah (XI.2)
Sore itu, langit tampak berwarna jingga keemasan. Lapangan sekolah SMP Perwira ramai oleh teriakan semangat para siswa. Mereka sedang menyaksikan pertandingan persahabatan antar kelas. Di tengah lapangan, seorang remaja bernama Neo berdiri dengan nafas memburu. Keringat menetes di wajahnya, tapi senyum percaya diri tak pernah lepas dari bibirnya. Neo dikenal sebagai pemain bola terbaik di sekolahnya. Teman-teman sering menjadikannya andalan dalam setiap pertandingan. Ia pandai, ceria, dan selalu ingin menjadi yang terbaik. Namun dibalik itu, Neo punya sifat yang kadang membuatnya celaka, terlalu percaya diri dan mudah terpancing emosi.
Dari pinggir lapangan. Deon, teman sekelasnya yang juga rival lamanya berseru sambil menepuk bahunya “Neo, yakin tim lu bisa menang hari ini? Kalau kalah, jangan nangis ya!” Neo mendengus pelan “tenang aja Deon. Tim gua gak pernah kalah kalo ada gua” Deon tersenyum sinis “kalau gitu kita taruhan aja gimana? Lima ratus ribu. Kalau lu kalah, kasih ke gua, tapi kalau lu menang gua yang bayar.” Beberapa temannya bersorak, menyoraki keduanya agar setuju. Neo yang terbakar semangat langsung mengulurkan tangan “oke, deal! Lima ratus ribu!” Sorakan teman-teman bergema di udara. Mereka berdua menepuk tangan tanda sepakat. Neo merasa yakin seratus persen ia akan menang. Namun, takdir punya rencana lain.
Pertandingan berlangsung sengit. Awalnya tim Neo unggul, tapi di babak kedua, mereka mulai, kelelahan. Satu kesalahan kecil di menit akhir membuat bola berhasil direbut lawan. Gol penentu pun tercipta tepat sebelum peluit panjang berbunyi. Skor akhir: 2-3. Neo kalah. Suara sorak sorai berubah menjadi tawa ejekan. Deon datang sambil menepuk pundaknya dengan wajah puas. “Gimana, Neo? Janji tetep janji ya. Besok gua tunggu lima ratus ribunya” Neo hanya diam. Dalam dadanya, ada rasa malu yang membakar. Ia mencoba tersenyum, tapi hatinya bergetar. Ia tidak punya uang sebanyak itu. Sepulang sekolah, langkahnya terasa berat. Ia berulang kali menghitung isi dompetnya, hanya ada 3 lembar uang dua puluh ribuan. “Gimana ini? Masa gua harus ngaku gak ada uang? Malu banget sial..”
Malam itu, setelah makan malam, Ia memberanikan diri bicara pada ayahnya. “Yah, Neo boleh minta uang gak?” tanya Neo dengan hati-hati. Ayahnya menoleh dari meja makan “Untuk apa, nak?” “buat bayar taruhan bola di sekolah” jawab Neo lirih. Wajah ayah Neo langsung berubah serius. “Taruhan? Maksudmu apa?” Neo mencoba menjelaskan dengan tergesa-gesa “Cuma iseng yah! Teman ngajak taruhan lima ratus ribu. Neo kira Neo bakal menang, ternyata kalah..” Ayah menatap tajam ke arahku “Neo!” suara ayahnya meninggi. “Kamu sadar gak itu termasuk judi? Sekolahmu bukan tempat buat seperti itu!” Neo menunduk, wajahnya merah. Ia merasa dipermalukan. “Tapi yah, Neo Cuma butuh lima ratus ribu doang! Cuma sekali ini aja….” Ayahnya menggeleng tegas “gak! Ayah gak bakal kasih kamu uang buat hal gak jelas kaya gitu, tanggung jawab atas kesalahanmu sendiri.” Air mata kesal menetes di sudut mata Neo. Ia merasa tidak dimengerti, “Ayah tuh pelit! Neo Cuma minta sedikit aja! Kenapa susah banget sih!” Neo berlari ke kamarnya, membanting pintu sekeras-kerasnya. Bundanya hanya bisa menghela nafas, suasana rumah hening.
Malam semakin larut. Neo duduk di tepi tempat tidur sambil menatap dinding. Rasa malu campur marah bercampur jadi satu. “Gua bakal cari uang sendiri. Gua gak butuh siapapun!” gumamnya. Tanpa pikir panjang. Ia mengambil dengan fikiran yang riuh “aduh malu banget gua besokkk” “ini gimana cara bayar taruhannya ya?” “ayah masih mau ngasih gua duit gak ya.” Pikiran itu membuat Neo tidak sadar bahwa dirinya sudah di tempat yang sangat sepi. Entah apa yang membuatnya berhenti sejenak dan berfikir jernih. Tetapi tangan dengan senjata tajam sudah dulu membuat
pikirannya lebih riuh. Ia tak bisa berkata apa-apa karena mulutnya di tahan. Lalu Neo dan motornya dibawa entah kemana. Di tempat asing yang tak pernah ia jarah.
Pagi berikutnya, suasana rumah keluarga Neo kacau. Bunda menangis karena anaknya tidak pulang semalaman. Ayah panik, menelpon teman-temannya, bahkan ke sekolah, tapi tak ada yang tahu keberadaan Neo. Kepala sekolah pun ikut mencarinya. Namun, saat mereka sedang berbicara di ruang guru, Tisya datang dengan wajah cemas “Pak, pas berangkat sekolah tadi saya dengar suara teriakan cowo di gedung tua dekat rel kereta, terus saya nemu STNK ini pak.” Tisya memberikan STNK itu kepada ayah Neo. “Ini Neo!” semua orang yang berada di ruang guru pun bergegas mencari Neo. “gakk” “aghh” suara teriakan terdengar samar. Bunda Neo berjalan duluan, alangkah paniknya saat Ia melihat Neo sedang di cambuk oleh dua pria asing. Tapi bunda tak berkata apapun, ia takut. Mobil polisi datang, semua orang bingung, ternyata Tisya sudah menelpon polisi diam-diam. Tisya tersenyum tenang. Dor! Satu tembakan ke langit membuat dua pria asing segera berlari. Polisi pun bergegas mengejarnya. Bunda segera menghampiri Neo. “Bun..” suara Neo lirih, matanya berlinang. “Nak… Ya Allah, Neo!” bunda langsung memeluknya erat, menangis sejadi-jadinya. Neo gemetar “maafin Neo bun.. Neo gak bakal taruhan lagi, gak kabur lagi..” bunda hanya mengusap rambut anaknya. “Yang penting kamu selamat, bunda udah hampir kehilangan kamu.”
Beberapa hari kemudian, setelah pulih, Neo kembali ke sekolah. Ia menunduk malu saat teman-temannya menatapnya. Ia menemui Deon di halaman belakang sekolah. “Deon, ini uang taruhan kemaren” Deon menatapnya kaget. “serius? Gua gak nyangka semua bisa jadi serumit ini..” Neo tersenyum pahit “gak lagi-lagi gua kaya kemaren, nyesel seumur hidup.” Sejak hari itu, Neo berubah. Ia menjadi lebih tenang dan mulai belajar sungguh-sungguh. Ia tak mudah terpancing omongan orang. Tak lupa, ia pun menemui Tisya di taman sekolah. Seraya memberi bingkisan. “Tis, makasih banyak ya, mungkin kalau kamu gak lewat situ waktu itu, aku udah gak ada.” Tisya tersenyum “dengan senang hati Neo. Kalau kamu gak teriak juga aku gak bakal tau.” Neo tersenyum malu. Neo sadar, satu keputusan kecil bisa mengubah seluruh jalan hidup seseorang.














