SETELAH HUJAN ITU Karya : Muhammad Nafian (XI.16)

Cerpen, Sastra58 Views

CERPEN (Cerita Pendek)

 

 

SETELAH HUJAN ITU

Karya : Muhammad Nafian (XI.16)

 

Hujan sore itu turun pelan, menimpa halaman sekolah yang mulai sepi.
Rafael berdiri di depan koridor kelas XII IPA 2 sambil menatap langit kelabu. Hatinya resah, sama seperti pikirannya yang tak menentu. sejak beberapa minggu terakhir, ia sering memikirkan satu nama Putri Deswita Amalia, gadis kelas XII yang baru pindah dari Bandung.

Putri berbeda dari wanita lain ia lembut, sopan, tapi punya tatapan yang sulit di tebak. Setiap kali Rafael melihatnya membaca buku di taman sekolah, ada getaran kecil di dadanya. Rafael salalu ingin mendekatinya dan ingin mengenalnya lebih jauh, namun di saat yang sama ia takut perasaannya hanya sesaat.

Hari itu, setelah jam pelajaran berakhir Rafael memberikan dirinya untuk menghampiri Putri di perpustakaan. “Putri, boleh aku duduk di sini?” tanya Rafael dengan hati gelisah. Putri tersenyum singkat “boleh, tapi jangan ganggu aku baca yaa.” Rafael pun tersenyum gembira.

Sejak saat itu mereka saling bertemu. Mulai dari belajar bersama, bertukar cerita, sampai saling terbiasa dengan kehadiran satu sama lain. Perlahan-lahan, Rafael mulai menyadari perasaannya tumbuh, namun ia ragu untuk mengungkapkannya, ia takut jika salah langkah semuanya akan berantakan.

Teman-temannya terus menggoda Rafael. “Bro, buruan tembak! kalau kelamaan keburu di rebut cowo lain” kata Dzeko pada saat pulang sekolah. Ucapan itu terngiang-ngiang di kepala Rafael yang membuat ia gelisah.

Malamnya, Rafael memandang ke arah ponselnya dengan perasaan campur aduk. “Putri, aku suka sama kamu. Kamu mau gak jadi pacarku?” satu pesan yang sudah siap di kirim kepada Putri, tapi jadinya berhenti ia teringat ucapan ibunya : “Kalau kamu mau ngambil keputusan besar, jangan pas emosi tunggu dulu sampai hati kamu tenang.” Rafael mematikan ponselnya lalu ia memilih menunggu.

sesaat setelah ia mematikan ponselnya, Rafael memandang langit malam lewat jendela kamarnya. Angin membawa aroma tanah yang basah, dan suara hujan masih samar terdengar di luar kamar, hatinya berkata ingin mengungkapkan semuanya tapi pikirannya menahan. ia sadar ini belum waktunya.

Keesokan harinya di sekolah, Rafael memperhatikan Putri dari kejauhan, gadis itu tertawa kecil bersama teman-temannya ia tampak bahagia tanpa tahu ada seorang yang sedang menahan perasaan untuk tidak gegabah. Saat itulah Rafael tersenyum ia mulai memahami bahwa menunggu bukan berarti menyerah tapi itulah cara untuk menghormati perasaan sendiri dan orang lain.

Beberapa hari kemudian Rafael melihat Putri berjalan dengan Ibnu seorang ketua OSIS yang ada di sekolah mereka. Ada tawa diantar mereka dan tiba tiba Rafael merasa dadanya sedikit sesak, namun ia mencoba menahan dirinya. Rafael sadar bahwa perasaan cemburu bisa menjerumuskannya pada keputusan yang salah.

Keesokan harinya Putri menghampiri Rafael “El, kamu kenapa?, kok kayaknya sekarang kerjanya ngelamun aja?” tanya Putri dengan penasaran. “Enggak, cuma lagi mikir aja” jawab Rafael singkat. Putri tersenyum lembut “Kamu tau gak kalo aku tu suka orang yang enggak gegabah. Dunia ini udah cukup ribet karena orang yang tergese gesa”.
Kata itu menenangkan hati Rafael, ia sadar cinta bukan sekedar keberanian mengungkapkan rasa, tapi juga kebijaksanaan menunggu waktu yang tepat.

Beberapa minggu berlalu, Putri memenangkan lomba menulis tingkat kota. Dalam tulisannya Rafael membaca kalimat yang membuatnya tersenyum. (Cinta paling indah bukan yang cepat diungkapkan, tapi yang tumbuh perlahan tanpa tergesa-gesa). Rafael merasa seolah kalimat itu tertuju padanya, ia bersyukur kalau dia tidak terburu-buru.

Menjelang akhir tahun, mereka duduk di taman sekolah setelah berakhirnya pembelajaran, angin sore bertiup lembut, membawa wangi bunga dari taman depan “Rafael,” Putri memulai pembicaraan di tengah tenangnya taman. “Aku tahu perasaan kamu dari dulu, aku juga ngerasa hal yang sama tapi aku pengen semuanya berjalan perlahan biar enggak salah langkah.” Rafael tersenyum lega “aku enggak keberatan untuk terus menunggu, hujan waktu itu yang bikin aku kenal sama kamu, dan hujan juga yang membuat aku sabar”

Putri memandang langit yang mulai mendung lagi “kalau nanti hujan turun kita harus ingat satu hal, jangan pernah terburu-buru” Rafael tersenyum dengan bahagia “Iya, keputusan yang baik tidak terlahir dari hal yang tergesa gesa.” Dan hujanpun turun dengan tenang, dibawah rintiknya Rafael dan Putri duduk berdua di tengah taman dengan perasaan yang sama.

Beberapa bulan kemudian mereka lulus, Rafael memandang pesan yang di kirim oleh Putri yang berbunyi “Terimakasih karena enggak pernah terburu buru, kamu ngajarin aku kalau cinta yang tenang lebih kuat dari pada cinta yang tergesa gesa,” Rafael tersenyum dan berkata “Waktu mungkin akan memisahkan kita, tapi pelajaran dari kisah kita berdua ini akan selalu ku bawa selamanya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *