ROTI HANGUS IBU (Karya Aisyah Hasna Azziqiyah XI.2)

Cerpen, Sastra28 Views

CERPEN (Cerita Pendek)

 

ROTI HANGUS IBU

Karya : Aisyah Hasna Azziqiyah (XI.2)

 

 

Saat itu, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, pada saat itulah orang dewasa maupun anak anak pulang kerja atau sekolah, termasuk aku. Aku baru saja pulang dari sekolah, langit pun sudah mulai gelap dan sedikit berwarna orange kalau kata orang langit sore yang berwarna jingga itu “sunset.” Tibalah aku di rumah setelah perjalanan yang cukup jauh menurutku, aku duduk sebentar di depan rumah sambil membayangkan kegiatan di sekolah tadi dan evaluasi sedikit tentang dirku hari ini. Aku benar-benar lelah sekali dan juga lapar saat ini. Lalu aku mencium aroma yang cukup membuat dahiku mengerut pertanda bingung “bau apa ini?” aku berbicara sendiri, dengan pelan aku berjalan ke arah dapur, sambil mencoba menebak siapa pelaku yang membuat bau ini. Sebenarnya aku ingin menebak ibu yang membuat ini, tetapi tidak mungkin karena ibu biasanya pulang pukul 5 sore, hingga langkahku sudah dekat dengan dapur, terlihat asap dan bau misterius itu semakin menarik perhatian hidungku. Aku hanya mengintip dari balik tembok, dan aku melihat seorang Perempuan yang lelah dan sedikit putus asa, benar saja, dia adalah Ibu. Aku melihat ibu mengeluarkan roti yang sudah gosong itu dari oven dan terlihat bentuk roti yang sudah berwarna hitam. Sejujurnya aku sangat tidak tega melihatnya, aku sangat ingin membantu ibu, tetapi jika aku membantunya sepertinya aku semakin mengacau, dan jika aku tidak membantunya maka aku akan jadi anak durhaka. Terdengar helaan napas Panjang ibu dan penuh dengan putus asa, aku hanya bisa melihat apa yang ibu lakukan untuk membereskan kekacauan itu, aku melihat ibu menaruh roti itu diatas piring dan membereskan semua yang terlihat kacau di dapur. Aku berpikir bahwa ibu sedang benar-benar lelah dari biasanya.

 

Malam pun tiba, Aku, Ayah, dan Ibu segera menuju ruang makan untuk makan malam, sesampainya aku di meja makan, aku terkejut, bahwa roti yang sudah gosong itu berada di meja. Aku sedikit mengerutkan dahi karena aku heran kenapa ibu tidak membuang roti itu, aku sudah membayangkan bahwa mungkin ayah akan marah atau mengomeli ibu atau mungkin saja akan mengeluh tentang roti itu ke ibu seperti yang ada di film-film itu. Jika itu terjadi aku tidak akan bisa membayangkannya, karena aku tidak ingin Ibu dan Ayah bertengkar hanya karena perkara sepele ini, dengan segera aku menghapus bayangan yang sangat mengerikan itu dari pikiranku. Bisa-bisanya aku memikirkan hal seperti itu, tetapi yang terjadi malah sebaliknya. Ayahku malah bersikap tenang, dan mengambil beberapa potongan roti itu, lalu mengoleskannya dengan selai, sejujurnya aku hanya bisa melihat ayah melakukan itu dan aku sudah membayangkan bahwa roti itu akan terasa pahit dan mungkin saja akan terasa keras, jujur pikiranku memang sangat kejam. Ayah memakan  roti itu seakan-akan roti itu matang dengan sempurna dan enak, dan ayah memakannya sambil tersenyum dan tampak menikmatinya, selesai ayah memakan roti itu, ayah berkata kepada ibu sambil menatap ibu dengan tulus “Terima kasih Ibu, Ayah sangat senang ibu sudah membuatkan kami makanan, dan rotinya sangat enak” Ayah berkata dengan sangat pelan dan memilih kosakata agar ibu tidak sakit hati atau terluka karena ucapan ayah, selanjutnya aku melihat kearah wajah ibu, terlihat ibu yang sedang manatap ayah dan aku secara bergantian, tatapan ibu sangat dipenuhi rasa bersalah, dan sepertinya ibu  sedikit terharu dengan ucapan ayah, sehingga pipi ibu sedikit merona, meskipun ayah sangat memaklumi ibu, aku tetap saja heran dengan ayah, apakah ayah memang suami-suami takut istri atau memang menghargai ibu, tapi sepertinya ayah memang tulus dengan ibu, dan tetapi aku cukup terkejut dan terkesan dengan ayah, karena ayah sangat menghargai ibu, walaupun ibu membuat kesalahan. Ayahku adalah seorang ayah yang sangat menghargai keluarganya maupun orang disekitarnya dan sepertinya tipe suami yang sangat menyayangi dan menghargai pasangannya.

 

Setelah makan malam selesai, aku segera menghampiri ayah yang sedang berada di ruang tamu, sejujurnya aku memang sedikit kepo dengan prilaku ayahku tadi, dan ingin menanyakan alasannya, dan aku bertanya kepada ayah “yahh…., kenapa ayah memakan roti yang jelek dan sudah gosong itu?, kenapa ayah tidak bilang apa pun?, kenapa ayah cuman diam dan tersenyum sambil memakannya?” Ucapku dengan nada penasaran, mendengar itu ayah  menatapku dengan tersenyum, sambil berkata “roti itu memang hangus dan bisa diganti dengan yang baru, tetapi hati ibu kamu akan menjadi terluka atau tersinggung, kalau ayah berbicara seperti itu. Kalau sudah begitu, siapa yang bisa memperbaikinya..” Ayah kembali bertanya kepadaku. Setelah mendengar itu, aku pun terdiam sesaat, kenapa aku tidak berpikir seperti itu, dan malah mencaci ibu, saat ini juga aku sangat merasa bersalah kepada ibu, lalu ayah pun melanjutkana perkataannya “Ibu kamu sudah bekerja seharian, lalu tetap membuatkan makanan untuk kita makan, nakk……” ia mengelus rambutku “Jadi hal yang bisa kita lakukan adalah mengapresiasi bentuk usahanya, bukan malah mengolok-olok.”

 

Setelah berbincang dengan ayah, aku pun menuju dapur, aku melihat ibu yang sepertinya sedang mempersiapkan roti untuk sarapan kami besok, aku pun berbicara kepada ibu “ Ibuuu…..,mulai besok aku akan membantu ibu,” dengan tatapan kasih sayang. Pengorbanan bukan hanya tentang membela ataupun berperang, melainkan bagaimana dia berjuang meskipun dia lelah, khususnya pengorbanan ibu, bukan hanya ibu tetapi kedua orang tua kita juga. Aku berkata dengan nada lirih, tanpa kusadari ibu sudah memelukku dan tersenyum “ terima kasih banyak nak atas kepedulianmu dan rasa pengertiannya, itu saja sudah cukup membantu sayang.” Ucap ibu sambil menatapku dengan tulus lalu mengelus rambutku,  “Aku akan tetap membantu ibu, mulai sekarang aku akan membantu ibu agar ibu tidak kelelahan lagi,” Ucapku dengan percaya diri. Mulai sekarang aku tidak akan membiarkan ibu kelelahan, jika ibu kelelahan aku akan memijatnya atau membantu menghilangkan rasa penatnya. Mulai Sekarang aku akan menjadi anak yang selalu memabantu kedua orang tuaku, lalu tanpa kusadari ibu memelukku lagi dan aku merasakan bahuku sedikit basah. Aku menoleh ke arah ibu, ternyata ibu memelukku sambil sedikit menangis, aku hanya bisa berkata di dalam hati, aku sayang ibu.

 

Sejak hari itu aku sadar, selelah-lelahnya kegiatanku di Sekolah, ada yang lebih lelah dari aku yaitu Ibuku, sepulang bekerja ia harus mengerjakan perannya lagi sebagai seorang ibu juga istri, ia memasak, membereskan rumah, mencuci dan banyak hal. Bagaimana bisa ada seorang wanita sekuat ibu 24 jam mungkin pekerjaannya tiada selesai. Mulai hari itu dan selanjutnya aku membantu ibu untuk membuat makanan ataupun sarapan, aku dan ibu pun selalu tertawa saat ada adonan tumpah atau roti yang terlalu asin atau gosong, atau Ketika ada bahan makanan yang tumpah. Banyak waktu yang kuhabiskan bersama Ibu. Ini bukanlah hanya sekedar membuat roti atau tentang roti yang gosong, tetapi apa yang berarti dalam hubungan ini, bukan tentang siapa yang paling lelah. Tapi tentang rasa sayang yang tumbuh lewat hati yang saling mengerti, dan rasa peduli yang tak kan pernah habis.

 

 

 

  • Selesai –

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *