Perencanaan Pembelajaran Digital Terintegrasi Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila MAN 1 Bandar Lampung

Perencanaan Pembelajaran
Digital Terintegrasi
Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila
MAN 1 Bandar Lampung

Daftar Isi

Tujuan Pembelajaran
Pertemuan Ke-1
Pertemuan Ke-2

Perencanaan Pembelajaran
Kurikulum Berbasis Cinta
Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila
Menjadi Pelopor Pemilih Pemula dalam Demokrasi Indonesia
I Spesifikasi
Nama Penyusun Rizyanti, S.Pd, M.Pd
Satuan Pendidikan Madrasah Aliyah
Nama Madrasah MAN 1 Bandar Lampung
Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila
Fase/Kelas/Semester F/XII/Ganjil
Topik Pembelajaran Menjadi Pelopor Pemilih Pemula dalam Demokrasi Indonesia
Alokasi Waktu 4 x 45 Menit (2 Pertemuan)
II Identifikasi
1 Asesmen pada Awal Pembelajaran (Opsional) Murid kelas XII berada pada transisi menuju dewasa dan sebagian besar akan menjadi pemilih pemula dalam pemilihan umum berikutnya. Mereka mungkin memiliki pengetahuan awal tentang demokrasi dan Pemilu dari media massa atau obrolan keluarga, namun seringkali pemahaman mereka belum mendalam tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, serta urgensi partisipasi dalam demokrasi. Minat mereka bisa bervariasi, dari yang sudah memiliki kesadaran politik hingga yang apatis. Latar belakang sosial-ekonomi dan lingkungan informasi yang mereka akses juga memengaruhi pandangan mereka terhadap politik. Kebutuhan belajar yang teridentifikasi adalah memberikan pemahaman yang komprehensif, kritis, dan aplikatif tentang peran pemilih pemula, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab dan keberanian untuk menjadi pelopor dalam demokrasi.
2 Dimensi Profil Lulusan Dalam pembelajaran ini, dimensi profil lulusan yang akan dicapai adalah:
  • Kewargaan: Murid mampu memahami dan menginternalisasi hak dan kewajiban sebagai warga negara yang baik, serta berperan aktif dan bertanggung jawab sebagai pemilih pemula dalam demokrasi Indonesia.
  • Penalaran Kritis: Murid mampu menganalisis informasi terkait Pemilu dan isu-isu politik dengan kritis, mengidentifikasi hoaks, dan membuat keputusan yang rasional berdasarkan informasi yang valid.
  • Kreativitas: Murid mampu mengembangkan ide-ide inovatif untuk mengampanyekan pentingnya partisipasi pemilih pemula secara positif dan konstruktif.
  • Kolaborasi: Murid mampu bekerja sama dalam kelompok untuk menyusun proyek-proyek edukasi bagi pemilih pemula lainnya.
  • Komunikasi: Murid mampu menyampaikan gagasan, informasi, dan ajakan untuk berpartisipasi dalam demokrasi secara efektif dan persuasif, baik lisan maupun tulisan.
3 Topik Panca Cinta

1. Cinta Ilmu

Cinta ilmu merupakan semangat untuk terus belajar, mencari pengetahuan, dan mengembangkan pemikiran kritis serta kreatif. Dalam kurikulum berbasis cinta, cinta ilmu mendorong siswa untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, menghargai proses pembelajaran, dan menerapkan ilmu untuk kebaikan.

2. Cinta Diri dan Sesama

Cinta diri dan sesama mengajarkan siswa untuk menghargai diri sendiri sebagai individu yang berharga dan peduli terhadap kesejahteraan orang lain. Nilai ini menekankan pentingnya empati, kerja sama, dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

3. Cinta Tanah Air

Cinta tanah air menanamkan rasa bangga terhadap identitas nasional, budaya, dan sejarah Indonesia, serta semangat untuk berkontribusi pada kemajuan bangsa. Dalam kurikulum, nilai ini diwujudkan melalui pembelajaran yang memperkuat nasionalisme dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Insersi Pendidikan Antikorupsi Pendidikan antikorupsi dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas 12, khususnya pada materi Menjadi Pelopor Pemilih Pemula dalam Demokrasi Indonesia, bertujuan membentuk karakter siswa sebagai pemilih pemula yang berintegritas dalam proses demokrasi. Nilai-nilai integritas seperti kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, keadilan, keberanian, gigih, dan menghargai menjadi landasan untuk mencegah korupsi dalam praktik demokrasi. Nilai-nilai ini selaras dengan sila keempat Pancasila, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, yang menekankan partisipasi aktif dan bertanggung jawab dalam demokrasi. Berikut analisis masing-masing nilai dalam konteks pendidikan antikorupsi dan peran pemilih pemula:

1.       Kejujuran

Kejujuran, yang mencerminkan sila kedua Pancasila (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), menjadi fondasi bagi pemilih pemula dalam demokrasi. Dalam pendidikan antikorupsi, kejujuran mendorong siswa untuk:

  • Memilih kandidat berdasarkan informasi yang benar dan objektif, tanpa dipengaruhi oleh hoaks atau manipulasi.
  • Menghindari praktik koruptif seperti jual-beli suara atau menerima suap untuk memilih kandidat tertentu.
  • Mengakui pendapat pribadi tanpa memalsukan preferensi demi tekanan sosial atau imbalan.

Contoh Penerapan: Siswa diajarkan untuk memverifikasi informasi kandidat dalam simulasi pemilu di kelas, memastikan keputusan mereka berdasarkan fakta, bukan propaganda.

2.       Kedisiplinan

Kedisiplinan selaras dengan sila keempat Pancasila, menekankan ketaatan pada aturan demokrasi. Dalam pendidikan antikorupsi, kedisiplinan melatih siswa untuk:

  • Mematuhi prosedur pemilu, seperti mendaftar sebagai pemilih dan menggunakan hak pilih sesuai aturan KPU.
  • Menghindari pelanggaran seperti mencoblos lebih dari sekali atau memalsukan identitas pemilih.
  • Menjalankan peran sebagai pemilih pemula dengan tertib, seperti menghadiri sosialisasi pemilu dengan disiplin.

Contoh Penerapan: Siswa dilatih untuk mengikuti aturan dalam simulasi pemungutan suara di sekolah, seperti antre dengan tertib dan menjaga kerahasiaan pilihan.

3.       Tanggung Jawab

Tanggung jawab mencerminkan sila kelima Pancasila (Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia), di mana pemilih pemula bertanggung jawab atas dampak pilihan mereka. Dalam pendidikan antikorupsi, tanggung jawab berarti:

  • Memahami bahwa setiap suara memengaruhi masa depan bangsa, sehingga pemilih harus memilih dengan penuh kesadaran.
  • Bertanggung jawab untuk melaporkan pelanggaran demokrasi, seperti kecurangan pemilu, kepada pihak berwenang.
  • Menghindari sikap apatis dengan aktif berpartisipasi dalam proses demokrasi.

Contoh Penerapan: Siswa dilatih untuk bertanggung jawab atas pilihan mereka dalam simulasi pemilu, dengan mempertimbangkan visi dan misi kandidat secara serius.

4.       Keadilan

Keadilan, yang selaras dengan sila kelima Pancasila, menekankan perlakuan adil dalam proses demokrasi. Dalam pendidikan antikorupsi, keadilan mendorong siswa untuk:

  • Memilih kandidat berdasarkan kompetensi, bukan karena imbalan atau hubungan pribadi, untuk mencegah praktik nepotisme.
  • Menghormati hak setiap pemilih untuk menentukan pilihan tanpa tekanan atau intimidasi.
  • Mengkritisi ketidakadilan dalam demokrasi, seperti distribusi sumber daya kampanye yang tidak merata.

Contoh Penerapan: Siswa diajarkan untuk memastikan semua peserta dalam simulasi pemilu mendapat kesempatan yang sama untuk menyampaikan visi mereka.

5.       Keberanian

Keberanian mencerminkan sila ketiga Pancasila (Persatuan Indonesia), di mana pemilih pemula berani memperjuangkan demokrasi yang bersih. Dalam pendidikan antikorupsi, keberanian meliputi:

  • Berani melaporkan praktik korupsi dalam pemilu, seperti suap atau manipulasi suara, meskipun menghadapi tekanan.
  • Menolak godaan untuk menerima imbalan demi mengubah pilihan suara.
  • Berani menyuarakan pendapat dalam diskusi demokrasi, meskipun berbeda dengan mayoritas.

Contoh Penerapan: Siswa dilatih untuk berani melaporkan kecurangan dalam simulasi pemilu kelas, seperti penyalahgunaan wewenang oleh “panitia pemilu”.

6.       Gigih

Gigih mencerminkan semangat pantang menyerah dalam memperjuangkan demokrasi yang bersih, selaras dengan sila kedua dan kelima Pancasila. Dalam pendidikan antikorupsi, gigih berarti:

  • Siswa terus belajar tentang proses demokrasi dan peran lembaga negara seperti KPU atau Bawaslu, meskipun materinya kompleks.
  • Berupaya memahami dan mengatasi tantangan dalam pemilu, seperti hoaks atau apatisme pemilih, dengan ketekunan.
  • Menunjukkan komitmen untuk tetap berpartisipasi dalam demokrasi meskipun menghadapi hambatan.

Contoh Penerapan: Siswa diajarkan untuk gigih mencari informasi tentang kandidat dan isu pemilu melalui sumber terpercaya, meskipun memakan waktu.

7.       Menghargai

Menghargai mencerminkan sila pertama dan kedua Pancasila, menekankan penghormatan terhadap perbedaan dalam demokrasi. Dalam pendidikan antikorupsi, menghargai berarti:

  • Menghormati pilihan politik orang lain tanpa memaksakan pandangan pribadi, mencegah konflik yang dapat memicu praktik tidak etis.
  • Mengakui peran lembaga negara seperti KPU dalam menjaga integritas pemilu, tanpa mencoba memanipulasi proses.
  • Menghargai keberagaman pandangan dalam diskusi demokrasi, mempromosikan musyawarah yang inklusif.

Contoh Penerapan: Siswa dilatih untuk menghargai pendapat teman dalam diskusi kelompok tentang pemilu, tanpa merendahkan pilihan yang berbeda

4 Materi Integrasi KBC

1. Cinta Ilmu

Praktik dalam Kurikulum:

  • Pembelajaran berbasis inkuiri: Mendorong siswa untuk bertanya, meneliti, dan menemukan jawaban melalui proyek atau eksperimen, seperti membuat presentasi tentang dampak perubahan iklim.
  • Pemanfaatan teknologi: Menggunakan sumber daya digital, seperti video edukasi atau platform pembelajaran daring, untuk memperluas wawasan siswa.
  • Kegiatan ekstrakurikuler: Mengadakan klub sains, literasi, atau debat untuk menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu melalui aktivitas yang menyenangkan.

Contoh: Siswa diajak untuk meneliti budaya lokal di daerah mereka dan mempresentasikan hasilnya dalam bentuk makalah atau video, menunjukkan antusiasme dalam mencari ilmu.

2. Cinta Diri dan Sesama

Praktik dalam Kurikulum:

  • Pendidikan karakter: Mengadakan kegiatan seperti simulasi kerja sama tim atau diskusi tentang pentingnya saling menghormati untuk membangun hubungan harmonis.
  • Kegiatan sosial: Mengajak siswa untuk terlibat dalam bakti sosial, seperti membersihkan lingkungan sekolah atau membantu teman yang kesulitan belajar.
  • Refleksi diri: Mengadakan sesi jurnal atau diskusi kelompok untuk membantu siswa memahami kekuatan dan kelemahan diri mereka serta bagaimana mendukung orang lain.

Contoh: Siswa bekerja sama dalam kelompok untuk membuat poster anti-bullying, menunjukkan cinta kepada diri sendiri dengan menjaga harga diri dan kepada sesama dengan mendorong sikap saling menghargai.

3. Cinta Tanah Air

Praktik dalam Kurikulum:

  • Pembelajaran sejarah dan budaya: Mengajarkan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia atau keberagaman budaya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air.
  • Kegiatan kebangsaan: Mengadakan upacara bendera, lomba seni tradisional, atau kunjungan ke situs bersejarah untuk memperkuat identitas nasional.
  • Proyek lingkungan: Mengajak siswa untuk ikut serta dalam kegiatan pelestarian lingkungan, seperti menanam pohon atau kampanye hemat energi, sebagai wujud cinta kepada bumi Indonesia.

Contoh: Siswa membuat pameran tentang pahlawan nasional dari daerah mereka, menunjukkan kebanggaan terhadap warisan budaya dan sejarah tanah air.

III Desain Pembelajaran
1 Capaian Pembelajaran (CP) Nomor 046 Tahun 2025 Pendidikan adalah usaha sadar, terencana, dan sistematis untuk mewujudkan proses pembelajaran dan suasana belajar agar murid secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki ilmu tentang agama dan penerapannya di masyarakat, akhlak mulia, pengendalian diri dan memahami batasan-batasan, kepribadian, kecerdasan, sopan santun, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Pancasila dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, dan ideologi negara harus diinternalisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara melalui pendidikan untuk membentuk warga negara yang mencintai bangsa dan negara Indonesia serta memahami perjuangan mencapai cita-cita berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pendidikan menumbuhkembangkan kompetensi pengetahuan, sikap, dan keterampilan murid yang akan diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk mewujudkan kompetensi tersebut membutuhkan pembelajaran dan praktik baik yang menghubungkan antara murid dan lingkungan sekitar serta perlu mengaitkannya dengan pendekatan pembelajaran mendalam. Pendidikan Pancasila adalah mata pelajaran yang berisi muatan Pendidikan Pancasila dan Pendidikan Kewarganegaraan yang bertujuan membentuk murid menjadi warga negara yang cerdas, amanah, jujur, berbudi luhur dan bertanggung jawab. Pendidikan Pancasila merupakan salah satu mata pelajaran yang mewujudkan dimensi profil lulusan, diaplikasikan melalui praktik belajar kewarganegaraan berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan komitmen Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Elemen Capaian Pembelajaran
Pancasila Murid mendeskripsikan rumusan dan keterkaitan sila-sila dalam Pancasila; menganalisis kedudukan Pancasila sebagai ideologi negara serta peluang dan tantangan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan global dan membiasakan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sebagai identitas nasional dalam kehidupan sehari-hari.
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Murid menganalisis periodisasi pemberlakuan undang-undang dasar di Indonesia; menganalisis perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; menunjukkan sikap demokratis berdasarkan Undang- Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dalam era keterbukaan informasi; menganalisis kasus pelanggaran hak dan pengingkaran kewajiban warga negara dan merumuskan solusi dari permasalahan tersebut.
Bhinneka Tunggal Ika Murid menganalisis potensi konflik dan bersama-sama memberi solusi yang berkeadilan terhadap permasalahan keberagaman di masyarakat; menginisiasi kegiatan bersama dengan prinsip gotong royong dalam praktik hidup sehari-hari
Negara Kesatuan Republik Indonesia Murid mendemonstrasikan praktik demokrasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara; menganalisis dan merumuskan solusi terkait ancaman, tantangan, hambatan, dan gangguan (ATHG) yang dihadapi Indonesia; menganalisis bentuk negara, bentuk pemerintahan, sistem pemerintahan Indonesia, dan peran lembaga-lembaga negara dalam bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan.
2 Tujuan Pembelajaran Pertemuan 1 (2 x 45 menit): Memahami Peran Pemilih Pemula dalam Demokrasi
  • Menjelaskan konsep demokrasi, pemilihan umum, serta hak dan kewajiban warga negara sebagai pemilih pemula dengan tepat, melalui studi literatur dan diskusi interaktif, sehingga memiliki pemahaman dasar yang kuat.
  • Menganalisis urgensi dan dampak partisipasi aktif pemilih pemula dalam menentukan arah kebijakan publik dengan kritis, melalui studi kasus simulasi pemilihan dan identifikasi isu-isu lokal, sehingga menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab.
  • Mengidentifikasi potensi tantangan dan hoaks yang dihadapi pemilih pemula serta cara mengatasinya dengan bijak, melalui analisis contoh berita dan diskusi kelompok, sehingga mampu mengembangkan penalaran kritis.

Pertemuan 2 (2 x 45 menit): Menjadi Pelopor Pemilih Pemula

  • Merumuskan strategi kampanye edukasi yang kreatif dan persuasif untuk mengajak pemilih pemula lainnya berpartisipasi dalam Pemilu dengan inovatif, melalui brainstorming dan perancangan proyek, sehingga mampu berpikir di luar kebiasaan.
  • Mendesain produk media kampanye (misal: infografis, poster digital, video singkat) yang menarik dan informatif untuk pemilih pemula dengan kolaboratif, melalui kerja kelompok dan pemanfaatan alat digital, sehingga menunjukkan keterampilan praktis.
  • Menyajikan ide kampanye dan produk media kepada publik mini (kelas/sekolah) dengan percaya diri dan efektif, sehingga mampu mengomunikasikan gagasan secara persuasif dan menjadi agen perubahan.
3 Kerangka Pembelajaran
  1. Praktik Pedagogik:
  • Model Pembelajaran: Problem-Based Learning (PBL) dan Project-Based Learning (PjBL).
  • Strategi Pembelajaran: Diskusi panel, studi kasus, simulasi, proyek kolaboratif, dan presentasi.
  • Metode Pembelajaran: Brainstorming, think-pair-share, debat ringan, role-play (simulasi mencoblos), dan peer teaching.
  • Pendekatan Deep Learning:
  • Mindful Learning: Mengajak peserta didik untuk merenungkan tanggung jawab mereka sebagai warga negara, menyadari dampak pilihan politik, dan mengenali bias informasi yang mungkin mereka miliki.
  • Meaningful Learning: Menghubungkan teori demokrasi dengan pengalaman nyata Pemilu, isu-isu terkini, dan peran langsung mereka sebagai calon pemilih. Membahas studi kasus yang relevan dengan kehidupan remaja.
  • Joyful Learning: Menciptakan suasana belajar yang interaktif, penuh energi, dan menginspirasi. Menggunakan permainan peran, kuis interaktif, dan proyek kreatif yang menantang sekaligus menyenangkan.
  1. Kemitraan Pembelajaran:
  • Lingkungan Sekolah: OSIS (khususnya seksi kesiswaan atau debat), guru mata pelajaran lain (Sejarah, Bahasa Indonesia, TIK) untuk integrasi materi dan dukungan proyek.
  • Lingkungan Luar Sekolah: Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat atau Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) sebagai narasumber tamu (jika memungkinkan) atau sumber informasi resmi; Organisasi kepemudaan/mahasiswa yang peduli demokrasi; Orang tua untuk diskusi di rumah tentang pengalaman Pemilu.
  • Masyarakat: Mengajak peserta didik untuk mengamati (secara daring atau dari berita) dinamika Pemilu di masyarakat sekitar, termasuk kampanye dan isu-isu yang berkembang.
  1. Lingkungan Belajar:
  • Ruang Fisik: Kelas yang fleksibel untuk diskusi kelompok dan presentasi, dilengkapi proyektor, papan tulis interaktif (jika ada), dan area untuk simulasi TPS mini.
  • Ruang Virtual: Pemanfaatan Google Classroom sebagai hub utama untuk berbagi materi, tautan berita, penugasan, forum diskusi, dan pengumpulan proyek.
  • Budaya Belajar: Mendorong budaya kritis, partisipatif, toleransi terhadap perbedaan pendapat, menghargai fakta, dan berani menyuarakan kebenaran. Menciptakan ruang aman untuk ekspresi diri dan bertanya.
  1. Pemanfaatan Digital:
  • Google Classroom: Sebagai platform manajemen pembelajaran, untuk berbagi materi ajar, artikel berita, tautan video, penugasan, dan pengumpulan proyek.
  • YouTube/Video Edukasi: Menayangkan video simulasi Pemilu, liputan berita tentang partisipasi pemilih pemula, atau video kampanye yang inspiratif dari Pemilu sebelumnya.
  • Mentimeter/Google Forms: Untuk polling pendapat awal, quick check pemahaman, atau pengumpulan data survei sederhana tentang isu Pemilu.
  • Kahoot/Quizizz: Untuk kuis interaktif yang menguji pemahaman konsep-konsep demokrasi dan Pemilu.
  • Aplikasi Desain Grafis (Canva, Piktochart): Untuk proyek pembuatan infografis atau poster digital.
  • Aplikasi Edit Video Sederhana (CapCut, InShot): Untuk proyek pembuatan video kampanye singkat.
  • Media Sosial (opsional, dengan pengawasan): Untuk membagikan hasil proyek kampanye edukasi kepada audiens yang lebih luas.
Pertemuan Ke-1, Pertemuan Ke-2,
IV Pengalaman Belajar (Menggunakan Model LOK-R)
Pertemuan Ke-1
Memahami Peran Pemilih Pemula dalam Pemilu
Pengalaman Belajar (Menggunakan Model LOK-R
(Literasi, Orientasi, Kolaborasi, Refleksi)
A. Kegiatan Awal: (15 menit)
Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning):
  • Guru memulai dengan sapaan dan ice breaking “Jika Saya Jadi…” (misal: “Jika saya jadi Presiden/Gubernur/Walikota, hal pertama yang akan saya lakukan adalah…”). Minta beberapa peserta didik untuk berbagi secara singkat, lalu kaitkan dengan pentingnya pemimpin dan pilihan rakyat.
  • Guru mengajak peserta didik untuk merenungkan: “Apa yang membuat saya merasa peduli atau tidak peduli dengan kondisi negara ini?” Minta mereka menuliskan satu kata/frasa di sticky note tanpa nama.

Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning):

  • Guru mengumpulkan sticky note dan membaca beberapa di antaranya. Kaitkan dengan pentingnya peran warga negara, terutama pemilih pemula, dalam demokrasi.
  • Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan ini.

Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning):

  • Guru memutarkan video klip singkat (1-2 menit) tentang suasana Pemilu yang meriah atau campaign Pemilu yang inspiratif.
  • Guru mengajukan pertanyaan “Apa yang kamu rasakan atau pikirkan saat melihat video ini?” dan meminta peserta didik berbagi kesan singkat.
B. Kegiatan Inti (60 menit)
a Literasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
Memahami (Understanding) – Diferensiasi Konten:
  • Guru menyajikan materi tentang pengertian demokrasi (secara umum dan di Indonesia), prinsip-prinsip Pemilu Luber Jurdil, serta hak dan kewajiban warga negara sebagai pemilih (menggunakan presentasi visual, infografis, atau handout ringkas). (Diferensiasi: Guru dapat menyediakan tautan ke video animasi explain tentang demokrasi atau artikel ilmiah singkat untuk peserta didik yang ingin mendalami).
  • Guru membagi peserta didik ke dalam kelompok. Setiap kelompok diberikan topik berbeda: “Hak Pemilih,” “Kewajiban Pemilih,” “Prinsip Luber Jurdil,” “Tantangan Pemilih Pemula.”
  • Setiap kelompok melakukan kajian singkat dari buku siswa atau sumber digital yang disediakan.
b Orientasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
Mengaplikasi (Applying) – Diferensiasi Proses:
  • Guru menampilkan beberapa skenario atau studi kasus (misal: “Seorang teman mengajak golput,” “Mendapat berita hoaks tentang salah satu calon,” “Bingung memilih karena semua calon terlihat sama”).
c Kolaborasi
Mengaplikasi
(Bermakna dan Menggembirakan
  • Setiap kelompok memilih satu skenario dan berdiskusi:
    • “Bagaimana kalian menganalisis skenario ini berdasarkan konsep demokrasi dan hak/kewajiban pemilih?”
    • “Apa dampak dari tindakan yang diambil dalam skenario tersebut?”
    • “Bagaimana kalian akan mengatasi tantangan atau hoaks dalam skenario ini?” (Diferensiasi: Guru dapat menyediakan lembar kerja dengan pertanyaan pemantik yang disesuaikan dengan tingkat kompleksitas kasus).
  • Guru membimbing diskusi, mendorong penalaran kritis, dan memberikan contoh nyata dari pengalaman Pemilu sebelumnya.
d Refleksi
Bermakna dan Berkesadaran
Merefleksi (Reflecting) – Diferensiasi Produk:
  • Setiap kelompok mempresentasikan hasil analisis skenario dan solusi yang mereka rumuskan.
  • Setelah presentasi, guru memfasilitasi sesi feedback dari kelompok lain.
  • Guru memandu refleksi kelas: “Apa peran paling penting yang bisa saya lakukan sebagai pemilih pemula?” “Bagaimana saya bisa memastikan suara saya berarti?”
C. Kegiatan Penutup (15 menit)
Bermakna, Berkesadaran, dan Menggembirakan Umpan Balik Konstruktif:
  • Guru memberikan umpan balik umum terhadap diskusi dan presentasi, mengapresiasi partisipasi dan analisis kritis peserta didik.
  • Guru menguatkan pemahaman tentang pentingnya partisipasi aktif dan bertanggung jawab sebagai pemilih pemula.

Menyimpulkan Pembelajaran:

  • Guru bersama peserta didik menyimpulkan poin-poin penting tentang urgensi partisipasi pemilih pemula dan cara mengatasi tantangan di era digital.
  • Guru menekankan bahwa “satu suara menentukan masa depan.”

Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya:

  • Guru memberikan tugas rumah untuk mencari contoh-contoh kampanye Pemilu yang menarik (baik yang positif maupun yang perlu dikritisi).
  • Guru menginformasikan tentang proyek kelompok untuk pertemuan berikutnya: “Membuat Kampanye Edukasi Pemilih Pemula.”
D. Assesmen Pembelajaran
Asesmen Awal
  • Format Asesmen: Ice breaking “Jika Saya Jadi…”, sticky note “Apa yang membuat saya peduli/tidak peduli…”, quick survey
  • Pertanyaan/Tugas:
    • Ice breaking lisan: “Jika saya jadi Presiden/Gubernur/Walikota, hal pertama yang akan saya lakukan adalah…”
    • Sticky note: “Apa yang kamu rasakan/pikirkan tentang kondisi negara ini?”
    • Mentimeter: “Menurutmu, metode kampanye apa yang paling efektif untuk remaja?”
  • Tujuan: Mengidentifikasi pengetahuan awal, gap pemahaman, minat, dan pandangan awal peserta didik terhadap isu demokrasi dan Pemilu.
Asesmen Proses –
Asesmen Akhir –
Pertemuan Ke-1, Pertemuan Ke-2,
Pertemuan Ke-2
Menjadi Pelopor Pemilih Pemula
Pengalaman Belajar (Menggunakan Model LOK-R:
Literasi, Orientasi, Kolaborasi, Refleksi)
A. Kegiatan Awal: (15 menit)
Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan Pembelajaran Berkesadaran (Mindful Learning):
  • Guru memulai dengan salam dan doa.
  • Guru menampilkan beberapa quotes atau video pendek inspiratif tentang “agent of change” atau “suara anak muda.”
  • Guru bertanya: “Bagaimana perasaan kalian jika kalian bisa menjadi bagian dari perubahan positif di lingkungan atau negara ini?” Ajak peserta didik untuk menuliskan satu kalimat harapan.

Pembelajaran Bermakna (Meaningful Learning):

  • Guru mengaitkan harapan peserta didik dengan peran mereka sebagai pelopor pemilih pemula yang dapat memengaruhi lingkungan sekitar.
  • Guru me-review singkat hasil diskusi pertemuan sebelumnya dan menyampaikan tujuan pembelajaran pada pertemuan ini, yaitu merancang kampanye edukasi.
  • Pembelajaran Menggembirakan (Joyful Learning):
    • Guru memutarkan jingle atau lagu bertema nasionalisme atau Pemilu yang membangkitkan semangat.
    • Guru melakukan quick survey menggunakan Mentimeter: “Menurutmu, metode kampanye apa yang paling efektif untuk remaja sepertimu?” (Pilihan: Poster, Video, Diskusi, Media Sosial, dll.). Hasilnya digunakan untuk memantik diskusi tentang ide kampanye.
B. Kegiatan Inti (60 menit)
a Literasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
Memahami (Understanding) – Diferensiasi Konten:
  • Guru menyediakan contoh-contoh media kampanye Pemilu yang baik dan kurang baik (misal: poster yang informatif vs. provokatif, video edukasi vs. hoaks).
  • Guru menjelaskan karakteristik kampanye edukasi yang efektif dan etis, serta pentingnya validitas informasi. (Diferensiasi: Guru dapat menyediakan checklist kriteria kampanye yang baik untuk kelompok).
b Orientasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
Mengaplikasi (Applying) – Diferensiasi Proses:
  • Peserta didik bekerja dalam kelompok yang sama dari pertemuan sebelumnya. Setiap kelompok diberikan tugas proyek untuk merancang “Kampanye Edukasi Pemilih Pemula.”
c Kolaborasi
Mengaplikasi
(Bermakna dan Menggembirakan
  • Kelompok mendiskusikan:
  • Target audiens (misal: teman sebaya di sekolah, adik kelas, komunitas).
  • Pesan utama yang ingin disampaikan.
  • Bentuk media kampanye (infografis, poster digital, video singkat, jingle, podcast mini, drama pendek, dll.).
  • Strategi penyebaran (di kelas, mading sekolah, media sosial).
  • Guru berperan sebagai fasilitator dan mentor, memberikan panduan teknis dan substantif. (Diferensiasi: Guru memberikan dukungan lebih intensif kepada kelompok yang membutuhkan bantuan dalam penggunaan alat digital atau pengembangan ide).
d Refleksi
Bermakna dan Berkesadaran
Merefleksi (Reflecting) – Diferensiasi Produk:
  • Setiap kelompok mempresentasikan ide kampanye dan produk media awal mereka (dapat berupa mock-up, storyboard, atau draf kasar).
  • Sesi peer review dan feedback antar kelompok. Minta setiap kelompok memberikan dua pujian dan satu saran perbaikan kepada kelompok lain.
  • Guru memandu refleksi: “Apa yang paling menantang dalam merancang kampanye ini?” “Bagaimana kampanye ini dapat memengaruhi pemilih pemula lainnya?”
C. Kegiatan Penutup (15 menit)
Bermakna, Berkesadaran, dan Menggembirakan Umpan Balik Konstruktif:
  • Guru memberikan umpan balik menyeluruh terhadap kreativitas, kolaborasi, dan potensi dampak dari ide-ide kampanye.
  • Guru memberikan apresiasi atas semangat peserta didik menjadi pelopor.

Menyimpulkan Pembelajaran:

  • Guru bersama peserta didik menyimpulkan pentingnya peran aktif, kritis, dan kolaboratif pemilih pemula dalam menjaga dan memajukan demokrasi Indonesia.
  • Guru menekankan bahwa menjadi pelopor berarti memberikan contoh dan inspirasi positif.

Perencanaan Pembelajaran Selanjutnya:

  • Guru memberikan tugas lanjutan untuk menyempurnakan proyek kampanye edukasi mereka di luar jam pelajaran, dengan target untuk disajikan pada acara sekolah (misal: mading digital, sosial media sekolah) atau pada pertemuan berikutnya.
  • Guru mendorong peserta didik untuk benar-benar mengaplikasikan ide kampanye mereka di lingkungan terdekat.
  • Guru menutup pembelajaran dengan doa dan motivasi untuk menjadi warga negara yang bertanggung jawab.f
D. Assesmen Pembelajaran
Asesmen Awal –
Asesmen Proses
  • Format Asesmen: Observasi partisipasi aktif dalam diskusi kelompok, kualitas analisis studi kasus, kemampuan kolaborasi, dan kemandirian dalam merumuskan solusi. Penilaian draf/ide proyek kampanye.
  • Pertanyaan/Tugas:
    • Observasi: Guru menggunakan lembar observasi untuk mencatat:
      1. “Apakah peserta didik aktif bertanya, berpendapat, dan mendengarkan dalam diskusi kelompok?”
      2. “Apakah peserta didik mampu menganalisis skenario dengan kritis dan logis?”
      3. “Apakah peserta didik berkontribusi aktif dalam merancang ide kampanye?”
    • Penilaian Draf/Ide Proyek: Rubrik penilaian untuk ide kampanye (misal: kejelasan pesan, relevansi dengan audiens, potensi dampak, kreativitas).

Tujuan: Memantau kemajuan belajar peserta didik, memberikan umpan balik secara berkelanjutan, dan memandu mereka dalam mengembangkan gagasan

Asesmen Akhir
  • Format Asesmen: Presentasi kelompok proyek “Kampanye Edukasi Pemilih Pemula” (penilaian produk media dan presentasi).
  • Pertanyaan/Tugas:
    • Presentasi Kelompok:
      1. “Presentasikan media kampanye yang telah kelompok Anda buat (infografis/poster/video/dll.)!”
      2. “Jelaskan mengapa Anda memilih pesan dan format kampanye ini!”
      3. “Bagaimana kampanye ini dapat mendorong pemilih pemula untuk berpartisipasi aktif dan bertanggung jawab?”
      4. “Tantangan apa yang kalian hadapi dalam proses pengerjaan proyek ini dan bagaimana kalian mengatasinya?”
    • Tujuan: Mengukur pencapaian tujuan pembelajaran secara menyeluruh, terutama kemampuan peserta didik dalam menganalisis, merancang, mengomunikasikan, dan berkolaborasi sebagai pelopor demokrasi.

 

Pertemuan Ke-1, Pertemuan Ke-2, Pertemuan Ke-3
Pertemuan Ke-4, Pertemuan Ke-5, Pertemuan Ke-6
Pertemuan Ke-3
………………………………………….
Pengalaman Belajar (Menggunakan Model LOK-R:
Literasi, Orientasi, Kolaborasi, Refleksi)
A. Kegiatan Awal: (10 menit)
Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan
B. Kegiatan Inti (105 menit)
a Literasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
b Orientasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
c Kolaborasi
Mengaplikasi
(Bermakna dan Menggembirakan
d Refleksi
Bermakna dan Berkesadaran
C. Kegiatan Penutup (15 menit)
Bermakna, Berkesadaran, dan Menggembirakan
D. Assesmen Pembelajaran
Asesmen Awal
Asesmen Proses
Asesmen Akhir
Pertemuan Ke-1, Pertemuan Ke-2, Pertemuan Ke-3
Pertemuan Ke-4, Pertemuan Ke-5, Pertemuan Ke-6
Pertemuan Ke-4
………………………………………….
Pengalaman Belajar (Menggunakan Model LOK-R:
Literasi, Orientasi, Kolaborasi, Refleksi)
A. Kegiatan Awal: (10 menit)
Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan
B. Kegiatan Inti (105 menit)
a Literasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
b Orientasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
c Kolaborasi
Mengaplikasi
(Bermakna dan Menggembirakan
d Refleksi
Bermakna dan Berkesadaran
C. Kegiatan Penutup (15 menit)
Bermakna, Berkesadaran, dan Menggembirakan
D. Assesmen Pembelajaran
Asesmen Awal
Asesmen Proses
Asesmen Akhir
Pertemuan Ke-1, Pertemuan Ke-2, Pertemuan Ke-3
Pertemuan Ke-4, Pertemuan Ke-5, Pertemuan Ke-6
Pertemuan Ke-5
………………………………………….
Pengalaman Belajar (Menggunakan Model LOK-R:
Literasi, Orientasi, Kolaborasi, Refleksi)
A. Kegiatan Awal: (10 menit)
Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan
B. Kegiatan Inti (105 menit)
a Literasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
b Orientasi
Memahami
(Bermakna dan Berkesadaran)
c Kolaborasi
Mengaplikasi
(Bermakna dan Menggembirakan
d Refleksi
Bermakna dan Berkesadaran
C. Kegiatan Penutup (15 menit)
Bermakna, Berkesadaran, dan Menggembirakan
D. Assesmen Pembelajaran
Asesmen Awal
Asesmen Proses
Asesmen Akhir
Pertemuan Ke-1, Pertemuan Ke-2, Pertemuan Ke-3
Pertemuan Ke-4, Pertemuan Ke-5, Pertemuan Ke-6
Pertemuan Ke-6
Ulangan, Remedial dan Pengayaan
Kampus Ceria Kampusnya Para Bintang